Sunday, February 11, 2018

Keruntuhan ekonomi dan dimulainya hegemoni dolar

Dari emas ke kertas

Untuk memahami apa yang terjadi hari ini kita harus melihat ke belakang ke zaman sederhana, kembali ketika orang melakukan barter satu sama lain. Utilitas dan ketersediaan komoditas ditentukan nilai mereka. Emas dipilih karena sulit ditemukan dan berguna dalam berbagai bidang. Oleh karena itu emas selalu dianggap sebagai contoh tertinggi dari barang yang bernilai tinggi, bersamaan dengan berlian, platinum, perak dan unsur-unsur lain yang sulit ditemukan tetapi memiliki kegunaan umum sehari-hari. Contoh lain, pentingnya utilitas uranium, elemen yang tidak berharga, menjadi suatu komoditi yang berharga akibat ditemukannya energi atom. Kembali lagi ke emas, orang dapat mengerti bagaimana di era barter, emas adalah unsur referensi untuk harga nilai dari segala sesuatu. Sedikit demi sedikit, emas bergabung dengan perak lalu perunggu dalam menyederhanakan pertukaran barang dan meningkatkan kemudahan penggunaan.

Emas memiliki nilai intrinsik dan berlaku di setiap kerajaan di seluruh dunia; sama halnya dengan perak dan perunggu. Emas telah menjadi tidak hanya alat tukar menukar dan ukuran nilai tetapi juga reservoir nilai yang bisa diwariskan, atau sebagai alat pembayaran. Ketika koin perak mulai langka, maka pembayaran dengan mata uang yang dicetak pada kulit diperkenalkan. Namun, kulit sering ditolak karena ada kekurangan reservoir nilai dibandingkan emas, perak dan perunggu. Mata uang dari kulit bisa aus, dan tidak setara dengan logam mulia.

Revolusi yang nyata dimulai pada tahun 1700-an ketika bank sentral Perancis mulai mengambil emas batangan dari warganya untuk ditukar dengan potongan-potongan kertas dengan nilai yang sesuai yang tertulis di atasnya. Perubahan ini akan memiliki dampak besar pada ekonomi dunia selama 300 tahun.

Aspek yang paling penting dari perubahan ini adalah efek psikologis, dimana orang bersedia untuk memberikan emas-nya ke bank Perancis untuk secarik kertas yang tertulis jumlah emas yang dimiliki. Ada dua alasan mendasar yang menyebabkannya populer: kesederhanaan penggunaan dan kepercayaan kepada sistem. Perancis, lewat bank sentralnya, menarik semua emas, perak dan perunggu dari warga dan menggantinya dengan uang kertas yang fisiknya tidak nilai intrinsik. Tapi uang kertas menawarkan portabilitas tinggi dan kemudahan penggunaan, membantu penggunaan sebagai alat pembayaran dan pertukaran barang. Maka lahirlah kapitalisme dan terjadilah transfer kekayaan. Dunia bertransisi dari ekonomi riil yang didasarkan pada nilai intrinsik, seperti yang diwakili oleh emas, perak dan perunggu, menjadi ekonomi fiktif yang berdasar pada lembaran-lembaran kertas.

Cadangan Mata Uang Dunia

Kerajaan Inggris, dan kemudian Amerika, telah berkembang pesat untuk hal yang satu ini, berkat akumulasi emas dalam bank-bank sentral mereka. Bank of England mengakumulasi cadangan emas dalam jumlah besar, sehingga mampu mengeluarkan sejumlah besar pound, membuat suatu konsep cadangan mata uang dunia. Pound perlahan-lahan menggantikan mata uang Perancis sebagai alat tukar utama di seluruh dunia, menjadikan Inggris dalam posisi istimewa sebagai akibat peran sentral London dalam ekonomi global. Sepanjang sejarah, munculnya kerajaan-kerajaan besar bertepatan dengan mata uang mereka yang menjadi cadangan mata uang global. Sebelum Kerajaan Inggris ada, mata uang adalah sebuah percampuran mata uang berharga dan mata uang pengganti. Tetapi dengan munculnya sterling, emas diganti dengan pound (240 dari koin sterling dicetak dengan menggunakan satu pound perak), memberikan Inggris dan koloni-koloninya kekuatan tidak proporsional untuk memanipulasi ekonomi global. Untuk membuat sistem bisa terus langgeng, maka diwajibkan untuk mencetak mata hanya berdasar kuantitas emas yang dimiliki.

Pada akhir perang dunia kedua, Amerika Serikat muncul sebagai pemenang terbesar di Barat dan Washington segera menggantikan London sebagai kekuatan utama dunia, dengan dolar menggantikan pound sebagai cadangan mata uang global. Perubahan negatif yang nyata datang ketika Nixon memutuskan pada tahun 1971 untuk menggantikan nilai dolar yang mengikuti nilai emas sesuai perjanjian Bretton Woods. The Fed tidak lagi diwajibkan untuk menaruh harga emas yang dicetak pada uang kertas. Krisis minyak 1973 menetapkan nilai dolar bergantung sepenuhnya dari harga minyak, membawa Arab Saudi dan negara-negara OPEC untuk menandatangani perjanjian rahasia dengan Washington. Perjanjian menyatakan bahwa sebagai pertukaran untuk perlindungan politik dan militer dari Washington, maka negara-negara OPEC diharuskan untuk menjual minyak hanya dalam dolar. Dengan demikian lahirlah Petrodollar, menjadi pengganti untuk standar emas yang sudah ada sebelum Nixon.

Selama waktu beberapa tahun, ekonomi dunia mengalami pergeseran dramatis dan bencana. Kekuatan militer dan ekonomi Amerika telah menang, dan the FED bebas untuk mencetak jumlah dollar sebebas-bebasnya tanpa khawatir tentang keberlanjutan atau kredibilitas, dan hanya bergantung pada perang, media dan konsumerisme untuk terus memimpin dunia. Dunia mulai mengirim barang-barang konsumen ke Amerika Serikat demi kertas-kertas yang tidak bertalian dengan emas. Lengkaplah sudah Penipuan Abad Ini (The Biggest Scam in the History of the World). Ini adalah sebuah lelucon yang melibatkan kolusi antara bank, agen-agen federal, lembaga pemeringkat dan pemerintah untuk menciptakan ilusi bahwa obligasi pemerintah AS adalah aset yang paling aman di dunia, bahkan lebih bernilai dari emas, yang mulai perlahan-lahan menghilang dari radar sebagai sebuah nilai intrinsik.

Dipercepat ke akhir 1980-an dan situasi mulai memburuk dengan transisi ke digital kenyataan yang diatur oleh Wall Street dan spekulasi keuangan. Bank Sentral dapat membuat uang dengan hanya mentransfer uang ke bank-bank secara digital.

Fenomena ini menyebabkan perbedaan besar antara aset nyata dan nilai mata uang. Banyak negara yang kredibilitasnya sedikit terlihat kurang bagus, langsung bisa menyebabkan peningkatan inflasi hanya dalam hitungan jam sebagai hasil dari spekulasi keuangan yang kuat, mendevaluasi nilai mata uang mereka dengan konsekuensi bencana bagi ekonomi riil.

Dua puluh tahun kemudian, keretakan tiba-tiba terungkap akibat Lehman Brother dengan krisis subprime mortgagenya mempertegas semua masalah yang ada. Resiko lebih lanjut adalah warga negara akan kehilangan kepercayaan dalam dolar atau euro, merusak pemahaman yang sudah ada sejak 1700-an, dimana warga mau bertukar emas untuk kertas yang aman dalam arti bahwa integritas proses dijamin oleh Bank Sentral negara mereka. Alih-alih menyembuhkan sistem keuangan, solusi cepat yang digunakan adalah meningkatkan kekuatan semua bank-bank dan lembaga-lembaga keuangan, dan membanjiri semua pasar dengan uang untuk menyelamatkan "bank-bank yang terlalu beresiko besar untuk gagal". Semua pembayar pajak biasa tiba-tiba menemukan diri mereka dibebani utang $800 milyar dengan satu klik mouse saja, Fed bekerja sepanjang malam untuk mencetak uang dengan modal nol demi meningkatkan likuiditas Bank.

Bersyukurlah pada propaganda arus utama media yang terus mengalir, sehingga rata-rata warga kurang begitu khawatir oleh tindakan ini sehingga kejatuhan ekonomi global yang lebih mendalam akhirnya bisa dihindari. Tetapi bank-bank sentral mendapati diri mereka dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, memaksa mereka untuk mengakui bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan perekonomian adalah mencetak lebih banyak uang dari 'yang tidak ada'. Situasi absurd yang telah menyebabkan Deutsche Bank pada tahun 2018 mengumpulkan instrumen keuangan beracun seperti derivatif yang bernilai sekitar $46 triliun, dua kali ekonomi Amerika. Ini adalah kegilaan.